Sejarah Kalender Kuno Yang Jadi Sistem Penanggalan Sampai Saat Ini

Sejarah Kalender Kuno Yang Jadi Sistem Penanggalan Sampai Saat Ini

Image


Sejarah - Kalender kuno diperkirakan lebih dari sekitar 5.000 SM saat kalender pertama kali muncul, dan mengatur standar global untuk mengukur bulan dan hari. Sejarah juga mencatat ada banyak kalender yang pernah digunakan orang-orang pada zaman dahulu dan diyakini sebagai penghitung akhir zaman.


Memang kalender ini agak terbilang unik jika baru pertama kali melihatnya. Sebab, sistem penanggalan dan tahunnya juga agak berbeda dengan kalender pada umumnya.


Apa itu Kalender Masehi?

Pengertian kalender Masehi adalah sistem penomoran atau penanggalan tahun yang didasarkan pada kalender Julian dan Gregorian. Kalender Masehi ini didasarkan pada siklus matahari atau revolusi bumi, yakni peredaran bumi mengelilingi matahari.


Baca JugaKudi Senjata Tradisional Jawa Kuno Masih digunakan hingga saat ini


Sejarah Kalender Masehi

Kalender Masehi atau disebut Anno Domini merupakan kalender yang dipakai secara universal oleh sebagian besar masyarakat di seluruh dunia saat ini. Kalender Masehi ini berdasarkan penanggalan kalender Julian dan Gregorian.


Sejarah Kalender Julian

Melansir situs History, kalender Julian adalah kalender atau sistem penanggalan yang diberlakukan oleh Julius Caesar sejak tahun 45 sebelum masehi (SM). Kala itu, Julius Caesar memutuskan bahwa kalender Romawi kuno sangat membutuhkan reformasi.


Dalam merancang kalender barunya, Caesar meminta bantuan Sosigenes, seorang astronom Aleksandria, yang menyarankannya untuk mengganti siklus bulan sepenuhnya dan beralih untuk mengikuti siklus matahari.


Kemudian Julius Caesar menambahkan satu hari di bulan Februari setiap empat tahun sekali. Penanggalan ini kemudian dinamai dengan kalender Julian. Selain itu, Caesar juga menetapkan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun penanggalan dalam kalender tersebut. Ia menamai awal bulan dengan nama Janus, dewa permulaan Romawi.


Sejarah Kalender Gregorian

Dalam perkembangannya, kalender Julian dianggap memiliki beberapa masalah yang memerlukan adanya penyempurnaan. Hal ini karena sistem perhitungan dalam kalender Julian menghitung panjang tahun matahari sebesar 11 menit yang menyebabkan kalender tersebut tidak sinkron dengan perubahan musim.


Hal tersebut disadari oleh pihak Gereja di Eropa kala itu. Kemudian pada tahun 1570-an Paus Gregorius XIII menugaskan astronom Yesuit Christopher Clavius untuk membuat kalender baru untuk menyempurnakan sistem penanggalan kalender Julian tersebut.


Selanjutnya, pada tahun 1582, untuk pertama kalinya kalender Gregorian diberlakukan oleh Paus Gregorius XIII. Dalam kalender Gregorian, penambahan hari setiap 4 tahun sekali yang sebelumnya ada dalam kalender Julian pun dihapuskan.


Hal tersebut pula yang menjadi asal mula diberlakukannya sistem kabisat. Tahun kabisat terjadi dalam periode empat tahun sekali kecuali tahun yang tidak habis dibagi 400. Kalender Gregorian inilah yang menjadi acuan kalender Masehi.


Penanggalan kalender Julian yang merupakan sejarah kalender Masehi ini kemudian diberlakukan di negara-negara penganut Kristen Katolik. Seperti di Italia, Spanyol, dan Portugal. Meski demikian sistem penanggalan kalender Gregorian ini juga sempat mengalami penolakan dari berbagai pihak.


Pada tahun 1752, Inggris dan Amerika baru menggunakan kalender Masehi sebagai acuan penanggalannya. Selanjutnya, banyak negara yang juga mulai menerapkan sistem penanggalan kalender Masehi yang masih dipakai hingga kini.


Kalender Matahari, Penanggalan Mesir Kuno

Manusia, membutuhkan kebutuhan Primer dan Sekunder. Tetapi tidak kalah penting dari 2 kebutuhan lainnya adalah Manusia memerlukan penanggalan atau yang sering kita sebut dengan Kalender. Kita sebagai manusia pastilah memiliki hari kelahiran, dari mulai tanggal, bulan, dan tahun. Manusia sering pula mencatat peristiwa penting pada angka-angka di kalender.


Peradaban yang pertama kali menggunakan sistem kalender dan mengetahui pentingnya penanggalan adalah Mesir. Acuan penanggalan yang mereka gunakan adalah Fenomena Alam. Keberadaan peradaban ini, ada di sepanjang Mesir Hulu dan Mesir Hilir yang jalannya dilewati Sungai Nil.


Kalender Mesir Kuno (kalender sipil) yang jumlahnya 365 hari ini, sudah terpasang sejak zaman kerajaan. Richard Parker merupakan salah seorang yang sangat berpengaruh di subjek kalender matahari pada generasi terakhir ini, dia berasumsi bahwa orang mesir menggunakan kalender sipil 365 hari dalam 2 kalender yang berbeda.


Kalender lunar pertama (penanggalan dari fase bulan), orang mesir menggunakannya dengan melihat sisa dari bulan sabit tua di waktu fajar. Akan tetapi Bulan yang memudar tidak bisa lagi dilihat begitu saja sebelum matahari terbit dari sebelah timur. Maka, orang mesir menggunakan kalender sipil ke 2.


Kalender yang kedua (lunisolar), yaitu yang mengacu dan mengikuti musim yang ada di wilayah mereka. Musim di Mesir terbagi menjadi 3, musim pertama musim banjir, kedua musim keluar nya tumbuhan-tumbuhan (Pret), dan yang terakhir musim kering (sedikit air). Dalam sistem penanggalan Mesir, 1 musim adalah 4 bulan.


Pada saat itu juga penduduk mesir sudah merancang dan menyusun penanggalan 1 tahun sesuai fase bulan, yang terdiri dari 12 bulan dan 365 hari. Yang pada setiap bulannya terdiri dari 30 hari. Dalam struktur kalender mesir kuno ini, membutuhkan pembagian jam atau waktu malam. 12 jam siang dan 12 jam malam, jam yang umumnya diterima oleh orang mesir kuno dan ditujukan dalam pengembangan atau pencatat jam mereka sebagai jam variabel musiman.


Seperti pada Prosesor atau 24 jam sehari dengan metode Equal Hours yaitu saat kita melihat waktu pada jam tangan kita yang menunjukkan angka yang sama seperti 12:12, 21:21, 11:11 dan lain sebagainya. Pada zaman mesir kuno diyakini saat waktu angka yang sama itu kita memiliki makna dalam hidup, mengingat angka yang ada pada jam tangan, sama halnya dengan angka pada kalender.



Keistimewaan saat melihat awal tahun pada kalender mesir kuno ini, yaitu dengan melihat keadaan alam. Pertama ketika mencapai pertengahan musim gugur, Kedua ketika batas banjir yang paling tinggi, Ketiga ketika bintang sirius terbit di timur dengan waktu sekejap pada pagi hari sebelum matahari terbit.


Namun ternyata terdapat kekeliruan dalam sistem penanggalan Mesir Kuno ini, yaitu adanya selisih sekitar 0.25 (6 jam) hari dengan kalender masehi. Maka dari itu akan tertinggal 1 hari dalam setiap 4 tahun penanggalan Masehi. Karena di dalam kalender Masehi terdapat 365,25 hari, sedangkan jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari.



Namun, penanggalan yang berselisih ini akan menjadi benar dan kembali seperti semula apabila telah melewati 1460 tahun Masehi. Dengan artian 1460 dibagi 4 musim sama dengan 365 hari atau satu tahun dalam penanggalan Mesir Kuno. Selanjutnya, kesesuaian antara sistem penanggalan Masehi dan sistem penanggalan Mesir Kuno kembali seperti semula.


Sejak dinasti Mesir I pada 3100 SM, kalender Mesir Kuno ini ada. Bersamaan dengan berdirinya Kota Pertama, yaitu Uruk, di Mesopotamia. Kalender Mesir ditentukan dengan berdasarkan Musim yang terdapat di wilayah mereka. Sedangkan kalender Masehi yag kita gunakan berdasarkan perputaran Bumi mengelilingi Matahari yang disebut Revolusi Bumi. Membagi waktu dalam sehari 24 jam, 12 jam siang dan 12 jam malam. Adanya perbedaan mengenai awal munculnya penanggalan Mesir Kuno karena tidak ada seorang pun yang dapat memastikan kapan munculnya penanggalan Mesir Kuno.


Melongok Beberapa Sejarah Kalender Kuno

Kalender Masehi dan Hijriyah saat ini menjadi kalender tolak ukur perhitungan bulan dan hari di penjuru dunia. Namun selain kalender-kalender tersebut masih banyak yang digunakan orang-orang pada zaman dahulu salah satunya adalah kelender Romawi.


Berikut ulasan daftar kalender kuno dari kalender Aztec hingga kalender Maya dalam catatan sejarah dunia yang dikutip dari berbagai sumber.


1. Kalender Aztec

Kalender Aztec terdiri dari dua kalender berbeda, yaitu Xiuhpohualli dan Tonalpohualli. Kalender Xiuhpohualli memiliki 365 hari dibagi menjadi 18 bulan, di mana setiap bulan ada 20 hari.


Namun, pada akhir tahun terdapat lima hari tambahan sebagai keburuntungan, dan 12 hari ditambahkan setiap 52 tahun sekali. Tidak hanya itu, kalender Tonalpohualli juga memiliki 20 bulan yang memiliki 13 hari setiap bulannya.


Jika ditotalkan, terdapat 260 hari dalam setahun. Angka 260 dikaitkan dengan nomor atau tanda yang didedikasikan untuk dewa. Suku Aztec percaya bahwa setiap 52 tahun, dunia akan hancur. Untuk mencegah kehancuran, mereka melakukan ritual selama 12 hari yang disebut festival api untuk mengikat tahun-tahun.


2. Kalender Romawi

Kalender Romawi ini diciptakan oleh Raja Romulus ketika Roma pertama kali berdiri. Kalender itu memiliki 10 bulan dengan total 304 hari, dan tambahan 61 hari yang tidak termasuk dalam bulan atau pun minggu.


Permasalahan bulan dalam kalender ini tidak sinkron dengan musim, Raja Numa menambahkan dua bulan tambahan, yaitu Lanuarius (Januari) dan Februarius (Februari) agar total bulan genap menjadi 12.


Lantas, Julius Caesar kemudian memperkenalkan kalender Julian setelah ia menjadi pontifex maximus. Namun, kalender baru tidak bisa segera diadopsi karena ketidakakuratan dengan kalender Romawi.


3. Kalender Revolusi Perancis

Siapa sangka, kalender yang juga disebut kalender republik Perancis ini digunakan di negara Perancis pada tanggal 24 Oktober 1793, sampai 1 Januari 1806. Kalender ini sempat direpisi namun tetap dihapus kembali pada tahun 1871.


Kalender itu pertama kali diperkenalkan lebih dari satu tahun setelah revolusi Perancis. Oleh karena itu dalam kalender ini tidak terdapat tahun ke-1. Sementara itu, kalender ini dimulai pada tahun ke-2. Dalam kalender ini terdapat 12 bulan, di mana setiap bulan terdiri dari tiga 'dekade (10 hari)'.


Setiap hari sepanjang tahun memiliki nama sendiri, seperti bibit, pohon, bunga, buah-buahan, peralatan dan binatang. Dari 10 hari dalam seminggu, hari terakhir dianggap sebagai hari libur.


4. Kalender China

Kalender China kombinasi antara kalender Lunisolar, yang berarti bahwa kalender tersebut dihitung berdasarkan posisi matahari dan bulan.


Setahun biasanya memliki 12 bulan, dan 353-355 hari. Setiap tiga tahun sekali, ada tambahan bulan dengan nama yang sama seperti nama bulan sebelumnya. Meskipun kalender ini masih digunakan di China, dalam kalender China terdapat kedua belas binatang yang melambangkan kedua belas cabang bumi.


Kedua belas cabang bumi di antaranya, tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam, anjing, dan babi


5. Kalender Revolusi Soviet

Uni Soviet memperkenalkan kalender ini pada tahun 1929. Kalender ini memanipulasi minggu dalam setahun, mengurangi jumlah hari dalam seminggu dari tujuh menjadi lima hari.


Anehnya lagi, pada setiap akhir tahun, ada lima sampai enam hari yang tidak termasuk ke bulan manapun. Selain itu, terdapat 30 hari di bulan Februari menurut kalender ini.


Pekerja pemerintah atau non-pemerintah mengamati hari libur mereka pada hari yang jatuh pada warna atau nomor. Namun, sistem kalender ini malah mendatangkan kekacauan.


Kalender ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas pekerja, meskipun ada unsur ingin membasmi agama. Pada tanggal 26 Juni 1940, kalender ini tidak digunakan lagi.


6. Kalender Maya

Pada tahun 2012, kalender Suku Maya pernah meramalkan bahwa Bumi ini akan kiamat. Kalender Maya sebenarnya terdiri dari tiga kalender yang berbeda, yakni Long Count, Tzolkin dan Haab.


Kalender Haab memiliki 365 hari, dibagi menjadi 19 bulan, 18-20 hari dalam satu bulan, dan satu bulan hanya dalam lima hari.


Kalender Tzolkin memiliki 13 periode, di mana setiap periode memiliki 13 hari. Kalender ini digunakan untuk menentukan hari upacara Suku Maya dan kegiatan keagamaan lainnya.


Sementara itu, Long Count digunakan untuk menentukan frekuensi waktu yang lebih lama atau lebih dikenal dengan "Siklus Universal".


Siklus universal memiliki 2,88 juta hari (sekitar 7.885 tahun). Maya Kuno percaya bahwa alam semesta hancur dan kemudian dibangun kembali setiap 2,88 juta hari.

Previous Post Next Post